Ada kalanya kamu merasa menjadi dirimu sendiri itu mudah ketika sedang sendirian. Kamu bisa bicara dengan cara yang kamu suka, memilih sesuatu tanpa terlalu memikirkan pendapat orang lain, dan menunjukkan ekspresi yang memang muncul dari dalam dirimu.
Perasaan itu bisa berubah ketika ada orang lain di sekitarmu. Cara bicaramu menjadi lebih hati-hati, pilihanmu mulai mengikuti keadaan, dan sikapmu bisa berubah tanpa kamu benar-benar menyadarinya.
Kamu mungkin tetap merasa sebagai dirimu sendiri, tetapi ada bagian tertentu dari dirimu yang seperti menyesuaikan bentuk agar cocok dengan orang atau lingkungan yang sedang kamu hadapi. Karena berlangsung berulang kali, perubahan itu akhirnya terasa biasa.
Menjadi Diri Sendiri Terasa Berbeda Saat Ada Orang Lain
Menjadi diri sendiri sering terasa paling mudah ketika kamu tidak perlu memikirkan bagaimana dirimu akan diterima oleh orang lain. Saat sendirian, kamu tidak perlu mengatur cara bicara, ekspresi, atau pilihan hanya supaya suasana tetap nyaman.
Kamu bisa punya selera tertentu, tertawa dengan cara tertentu, atau menghabiskan waktu dengan hal yang memang kamu sukai. Tidak ada orang yang perlu kamu pertimbangkan sebelum mengambil keputusan kecil sekalipun.
Tetapi ketika bersama orang lain, keadaan bisa terasa berbeda. Kamu mulai membaca suasana, memperhatikan reaksi orang, lalu secara spontan mengubah cara kamu membawa diri.
Kamu mungkin berbicara lebih pelan di satu lingkungan, lebih banyak bercanda di lingkungan lain, atau memilih diam ketika berada bersama orang yang membuatmu merasa harus berhati-hati. Perubahan seperti ini sebenarnya bisa terjadi dalam kehidupan sosial tanpa berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu.
Masalahnya mulai terasa ketika kamu terlalu sering menyesuaikan diri sampai sulit membedakan mana sikap yang memang muncul secara alami dan mana yang kamu lakukan karena keadaan. Kamu bisa saja pulang setelah bertemu seseorang lalu merasa, “Kok tadi aku jadi seperti bukan diriku sendiri?”
Perasaan itu tidak selalu berarti kamu kehilangan identitas. Bisa jadi kamu hanya sudah terbiasa membaca lingkungan sebelum menunjukkan dirimu.
Setiap orang memang bisa memiliki cara bersikap yang berbeda tergantung tempat dan siapa yang sedang dihadapi. Kamu tidak berbicara kepada teman dekat dengan cara yang sama ketika berbicara kepada orang yang baru dikenal, dan kamu juga tidak harus menunjukkan seluruh sisi dirimu kepada semua orang.
Yang membuatnya berbeda adalah ketika perubahan itu terasa seperti kewajiban. Kamu bukan lagi sekadar menyesuaikan cara berkomunikasi, tetapi mulai mengubah pendapat, pilihan, ekspresi, bahkan reaksi agar sesuai dengan apa yang dianggap aman dalam lingkungan tersebut.
Di titik itu, menjadi diri sendiri bisa terasa lebih sulit karena kamu sudah terbiasa mempertimbangkan orang lain sebelum mempertimbangkan apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan.
Kamu Bisa Berubah Cara Bersikap Tanpa Sadar Sedang Menyesuaikan Diri
Penyesuaian diri sering terjadi dalam bentuk yang sangat kecil sehingga kamu tidak langsung menyadarinya. Kamu mungkin hanya mengubah cara bicara, menahan komentar, mengikuti pilihan orang lain, atau mengurangi ekspresi tertentu karena merasa itu lebih sesuai dengan situasi.
Perubahan kecil seperti ini bisa berlangsung begitu otomatis sampai kamu tidak lagi merasa sedang memilih. Kamu hanya mengikuti pola yang menurutmu paling aman untuk membuat interaksi berjalan tanpa masalah.
Kamu mungkin tahu sebenarnya kamu ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam karena merasa orang lain tidak akan menyukainya. Kamu juga bisa saja ingin memilih sesuatu yang berbeda, tetapi mengikuti pilihan bersama karena tidak ingin terlihat merepotkan atau membuat suasana berubah.
Cara kamu mengekspresikan diri juga bisa ikut berubah. Ketika bersama orang tertentu kamu mungkin menjadi sangat pendiam, sementara bersama orang lain kamu bisa jauh lebih terbuka dan santai.
Perbedaan itu belum tentu menunjukkan bahwa salah satu versi dirimu palsu. Manusia memang tidak menunjukkan seluruh sisi dirinya dalam setiap hubungan dan situasi.
Namun, ketika kamu terlalu sering mengubah diri berdasarkan lingkungan, kamu bisa mulai merasa sulit menjadi diri sendiri. Bukan karena kamu tidak punya sikap atau pilihan, tetapi karena kamu terbiasa menyesuaikannya sebelum sempat benar-benar merasakannya.
Kamu akhirnya lebih cepat bertanya, “Orang lain maunya aku bagaimana?” daripada menyadari, “Aku sendiri sebenarnya bagaimana?”
Di sinilah penyesuaian diri bisa menjadi sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kamu tidak selalu sedang berusaha menyenangkan semua orang. Kadang kamu hanya sedang berusaha menjaga suasana, menghindari konflik, atau memastikan bahwa keberadaanmu tidak terasa mengganggu bagi orang lain.
Semakin sering pola itu terjadi, semakin mudah bagimu menganggapnya sebagai bagian normal dari dirimu. Padahal, bisa saja ada banyak pilihan, pendapat, dan ekspresi yang sebenarnya kamu tahan hanya karena sudah terbiasa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Ada Saatnya Kamu Lebih Mengenal Versi Dirimu yang Disukai Orang Lain
Kamu bisa sampai pada titik ketika versi dirimu yang paling sering muncul justru adalah versi yang paling mudah diterima orang lain. Bukan karena kamu sengaja berpura-pura, tetapi karena kamu sudah terlalu lama terbiasa menjadi seperti itu di hadapan mereka.
Kamu mungkin tahu bahwa orang tertentu lebih nyaman ketika kamu tidak banyak membantah. Kamu juga tahu lingkungan tertentu lebih menerima dirimu ketika kamu mengikuti kebiasaan mereka, tidak terlalu banyak bicara, atau tidak menunjukkan pendapat yang berbeda.
Lama-kelamaan, kamu bisa menghafal pola tersebut tanpa perlu memikirkannya lagi. Kamu tahu kapan harus diam, kapan harus tertawa, kapan harus mengalah, dan kapan sebaiknya tidak menunjukkan sesuatu yang mungkin membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Versi dirimu itu kemudian terasa aman karena kamu sudah mengenalnya dengan baik. Kamu tahu bagaimana orang lain akan bereaksi ketika kamu bersikap seperti itu, sehingga kamu tidak perlu menghadapi banyak ketidakpastian.
Yang mungkin tidak kamu sadari adalah ada sisi lain dari dirimu yang semakin jarang kamu tunjukkan. Pendapat yang berbeda, keinginan yang tidak sama, atau cara bereaksi yang sebenarnya lebih sesuai dengan dirimu bisa semakin sering kamu simpan sendiri.
Kamu akhirnya bukan hanya menyesuaikan perilaku dalam situasi tertentu. Kamu mulai terbiasa melihat dirimu melalui reaksi orang lain terhadapmu.
Ketika orang lain menyukai sikapmu yang tenang, kamu mungkin semakin sering menjadi orang yang tenang. Ketika mereka menyukai dirimu yang selalu mengikuti keadaan, kamu mungkin semakin jarang menunjukkan bahwa sebenarnya kamu punya pilihan sendiri.
Hal seperti ini tidak selalu terjadi dalam hubungan yang buruk. Bahkan dalam hubungan yang berjalan baik sekalipun, kamu bisa terbentuk oleh kebiasaan untuk mempertahankan versi dirimu yang paling mudah diterima.
Kamu mungkin merasa lebih nyaman ketika tidak ada konflik, sehingga setiap kali ada perbedaan kamu secara otomatis mengubah sikap. Setelah berlangsung cukup lama, kamu bisa lupa bahwa sebelumnya kamu punya cara sendiri dalam menghadapi perbedaan tersebut.
Di titik tertentu, pertanyaan tentang menjadi diri sendiri mulai terasa membingungkan. Kamu tahu orang lain mengenalmu sebagai seseorang yang sabar, santai, mudah mengikuti keadaan, atau selalu bisa menyesuaikan diri.
Tetapi ketika kamu sendirian, mungkin muncul perasaan bahwa ada bagian dari dirimu yang tidak pernah benar-benar terlihat. Bukan karena kamu sengaja menyembunyikannya, melainkan karena kamu sudah terlalu terbiasa menunjukkan sisi yang dianggap paling aman.
Itulah sebabnya sulit menjadi diri sendiri tidak selalu terlihat seperti kebingungan besar tentang identitas. Kadang bentuknya jauh lebih sederhana: kamu terlalu terbiasa menjadi versi dirimu yang sudah diketahui dan diterima oleh orang lain.
Kamu bisa mengetahui apa yang membuat orang lain nyaman, tetapi tidak terlalu sering bertanya apa yang membuatmu nyaman. Kamu bisa mengenali reaksi orang terhadap sikapmu, tetapi belum tentu menyadari bagaimana sebenarnya dirimu ketika tidak sedang menyesuaikan diri.
Perbedaan itu perlahan membuat hubunganmu dengan dirimu sendiri terasa lebih samar. Kamu masih menjalani kehidupan yang sama, masih mengambil keputusan, masih berinteraksi dengan banyak orang, tetapi ada bagian dari dirimu yang lebih sering mengikuti keadaan daripada menunjukkan dirinya.
Karena itulah menjadi diri sendiri bukan hanya soal berani mengatakan apa yang kamu pikirkan. Ada bagian yang lebih dalam, yaitu apakah cara kamu bersikap masih terasa berasal dari dirimu atau sudah terlalu banyak dibentuk oleh apa yang membuat orang lain nyaman.
Ketika kamu mulai menyadari hal tersebut, mungkin muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah kamu benar-benar kehilangan dirimu, atau hanya kesulitan menunjukkan dirimu ketika berada di sekitar orang lain?
Sulit Menjadi Diri Sendiri Tidak Selalu Berarti Kamu Tidak Tahu Siapa Dirimu
Sulit menjadi diri sendiri tidak selalu berarti kamu sudah kehilangan gambaran tentang siapa dirimu. Kamu bisa saja tahu apa yang kamu sukai, apa yang tidak kamu sukai, bagaimana pendapatmu tentang sesuatu, dan seperti apa dirimu ketika merasa nyaman.
Yang menjadi sulit adalah menunjukkan semua itu ketika ada orang lain. Kamu mungkin mengenal dirimu dengan cukup baik saat sendirian, tetapi menjadi lebih ragu ketika harus membawa dirimu yang sebenarnya ke dalam sebuah hubungan atau lingkungan.
Perbedaan antara mengenal diri dan mengekspresikan diri ini penting. Kamu bisa tahu bahwa kamu tidak menyukai sesuatu, tetapi tetap mengatakan iya ketika orang lain menginginkannya karena situasinya terasa lebih mudah seperti itu.
Kamu juga bisa memiliki pendapat sendiri tetapi memilih tidak mengatakannya. Bukan karena pendapatmu tiba-tiba hilang, melainkan karena saat itu kamu lebih sibuk memikirkan bagaimana pendapat tersebut akan diterima.
Dalam keadaan seperti ini, kamu mungkin merasa tidak bisa menjadi diri sendiri. Padahal, dirimu masih ada, hanya saja tidak selalu muncul dalam setiap situasi.
Kamu tetap mempunyai pilihan, tetapi pilihan itu bisa tertahan sebelum keluar. Kamu tetap mempunyai pendapat, tetapi pendapat itu bisa berubah menjadi diam. Kamu tetap mempunyai cara sendiri dalam bereaksi, tetapi reaksi tersebut bisa kamu tahan karena sudah terbiasa membaca keadaan terlebih dahulu.
Karena itu, ada perbedaan antara kehilangan identitas dan kesulitan mengekspresikan identitas. Kehilangan identitas lebih berkaitan dengan tidak lagi merasa tahu siapa dirimu atau apa yang benar-benar menjadi bagian dari dirimu, sedangkan kesulitan mengekspresikan diri bisa terjadi ketika kamu masih mengenal dirimu tetapi tidak terbiasa menunjukkannya di hadapan orang lain.
Kamu mungkin bahkan baru menyadari perbedaannya ketika berada di tempat yang membuatmu merasa aman. Bersama orang tertentu, kamu bisa berbicara lebih bebas, bercanda tanpa banyak berpikir, mengatakan tidak, atau menyampaikan pendapat tanpa merasa harus mengatur setiap kata.
Pengalaman itu bisa menunjukkan bahwa kemampuanmu untuk menjadi diri sendiri sebenarnya masih ada. Hanya saja, kemampuan tersebut tidak muncul dengan cara yang sama di setiap lingkungan.
Lingkungan memang bisa memengaruhi cara kamu membawa diri. Kamu akan selalu bertemu orang dengan karakter, kebiasaan, dan harapan yang berbeda, sehingga sebagian penyesuaian merupakan bagian biasa dari kehidupan bersama orang lain.
Yang membuat pengalaman menjadi diri sendiri terasa berat adalah ketika penyesuaian tersebut menjadi begitu otomatis sampai kamu hampir selalu meninggalkan kebutuhan dan ekspresimu sendiri sebelum orang lain meminta apa pun.
Pada akhirnya, kamu bisa berada dalam keadaan di mana orang lain merasa sangat mengenalmu, sementara kamu sendiri masih bertanya-tanya bagian mana dari dirimu yang benar-benar kamu tunjukkan kepada mereka.
Mungkin itulah kenapa menjadi diri sendiri kadang terasa sulit meskipun kamu tidak benar-benar kehilangan dirimu. Kamu masih mengenal banyak bagian dari dirimu, tetapi terlalu sering berada dalam posisi menyesuaikan diri membuat bagian-bagian itu tidak selalu mendapat ruang untuk muncul.
Dan ketika kamu lebih sering melihat dirimu dari bagaimana orang lain mengenalmu daripada dari bagaimana kamu mengenal dirimu sendiri, identitasmu, batas antara dirimu dan versi dirimu yang terbentuk karena lingkungan bisa terasa semakin tipis.