Parentifikasi Adalah : Ketika Kamu Jadi Orang Dewasa Sebelum Waktunya

Kamu masih kecil saat pertama kali merasa harus menenangkan orang tuamu sendiri.

Mungkin waktu itu kamu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Kamu cuma tahu bahwa suasana rumah sedang tidak enak, ada suara yang meninggi, ada seseorang yang menangis, atau ada wajah yang terlihat begitu lelah. Lalu tanpa ada yang meminta secara langsung, kamu mencoba membuat semuanya kembali tenang.

Kamu belajar membaca suasana rumah lebih cepat daripada membaca perasaanmu sendiri. Kamu tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan harus menghibur, dan kapan sebaiknya membawa adik pergi supaya keadaan tidak semakin rumit.

Ada kalanya kamu bahkan merasa bertanggung jawab untuk memastikan semua orang baik-baik saja. Bukan karena kamu sudah mengerti bagaimana menjadi orang dewasa, tetapi karena saat itu rasanya memang tidak ada pilihan lain.

Kamu mungkin pernah menjadi anak yang paling cepat menyadari kalau salah satu orang tuamu sedang marah. Kamu juga mungkin tahu kapan harus mendekati mereka, kapan harus menghindar, atau bagaimana mengatakan sesuatu supaya suasana tidak semakin buruk.

Hal-hal seperti itu bisa terlihat kecil kalau dilihat dari satu kejadian. Tapi kalau kamu mengingatnya sebagai bagian dari masa kecilmu, mungkin kamu mulai melihat bahwa kamu terlalu sering berada di posisi yang seharusnya bukan milikmu.

Ketika Kamu Jadi Tempat Bersandar, Bukan Sebaliknya

Lama-lama, ini bukan lagi kejadian sesekali.

Kamu mulai terbiasa menjadi orang yang mendengarkan ketika orang tua sedang punya masalah. Cerita tentang pekerjaan, hubungan, uang, pertengkaran, atau masalah keluarga bisa sampai ke telingamu meskipun usiamu belum cukup untuk memahami semuanya. Kamu mungkin tidak diminta memberikan solusi, tetapi kehadiranmu seolah menjadi tempat untuk menumpahkan beban.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat kamu merasa aman perlahan terasa seperti tempat di mana kamu harus ikut menjaga keadaan. Kamu belajar memperhatikan perubahan nada bicara, ekspresi wajah, bahkan langkah kaki seseorang sebelum mereka mengatakan apa pun.

Kamu juga bisa saja menjadi penengah tanpa pernah menyadari bahwa kamu sedang mengambil peran itu. Ketika dua orang dewasa bertengkar, kamu mencoba membuat keduanya berhenti. Ketika salah satu anggota keluarga kecewa, kamu berusaha menjelaskan maksud anggota keluarga yang lain.

Posisimu akhirnya bukan lagi sekadar sebagai anak yang tinggal di dalam rumah itu. Kamu menjadi orang yang merasa harus mengerti semua orang.

Ada anak yang bahkan merasa harus lebih kuat daripada orang tuanya sendiri. Ketika orang tua sedang kacau, kamu berusaha tetap tenang. Ketika adik membutuhkan sesuatu, kamu yang bergerak lebih dulu. Ketika suasana rumah sedang berat, kamu belajar menyimpan masalahmu sendiri karena merasa bukan waktunya untuk menambah beban.

Kamu mungkin kemudian dikenal sebagai anak yang dewasa, pengertian, tidak banyak menuntut, dan bisa diandalkan. Pujian seperti itu terdengar baik, apalagi ketika datang dari orang-orang yang melihatmu dari luar rumah.

Tapi dari dalam, pengalaman itu bisa terasa berbeda.

Kamu tidak selalu merasa sedang menjadi anak yang hebat. Kadang kamu hanya merasa harus tahu apa yang harus dilakukan supaya semuanya tetap berjalan.

Karena ketika orang lain membutuhkan tempat untuk bersandar, kamu sudah terlalu terbiasa menyediakan bahumu sendiri. Sementara ketika kamu yang ingin bersandar, belum tentu ada ruang yang sama untukmu.

Ini Bukan Kedewasaan, Tapi Ini Peran yang Dipaksakan

Kamu mungkin mengira semua itu terjadi karena kamu memang lebih dewasa dibanding anak-anak lain seusiamu. Kamu bisa mengurus banyak hal sendiri, memahami masalah orang dewasa, dan tahu kapan harus menahan diri, sehingga wajar kalau orang-orang di sekitarmu menyebutmu anak yang kuat atau dewasa sebelum waktunya.

Tapi ada perbedaan antara belajar mandiri karena diberi ruang untuk tumbuh dan belajar mengurus keadaan karena tidak ada orang lain yang melakukannya. Yang pertama membuatmu berkembang sebagai anak, sementara yang kedua bisa membuatmu mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan milikmu.

Kamu tidak memilih untuk menjadi orang yang paling mengerti suasana rumah. Kamu juga tidak pernah benar-benar duduk dan memutuskan bahwa mulai hari itu kamu akan menjadi pendengar bagi orang tua, penjaga adik, atau penengah ketika keluarga sedang bermasalah.

Peran itu muncul sedikit demi sedikit.

Mungkin awalnya kamu hanya membantu ketika keadaan sedang sulit. Lalu bantuan itu menjadi kebiasaan. Setelah beberapa waktu, semua orang terbiasa melihatmu sebagai anak yang bisa diandalkan, dan kamu pun mulai merasa bahwa kalau kamu tidak melakukannya, sesuatu akan berantakan.

Di titik itu, menjadi “anak yang kuat” tidak lagi sekadar pujian. Ada tanggung jawab yang ikut menempel di baliknya.

Pengalaman ketika seorang anak mengambil peran yang seharusnya lebih banyak berada di tangan orang tua inilah yang disebut parentifikasi. Parentifikasi adalah kondisi ketika batas peran dalam keluarga bergeser, sehingga anak mulai menjalankan tanggung jawab emosional atau praktis yang terlalu besar untuk posisinya sebagai anak.

Kamu tidak harus benar-benar mengurus seluruh rumah agar pengalaman itu terasa nyata. Kadang bentuknya justru muncul lewat hal-hal yang sulit terlihat dari luar: menjadi tempat orang tua bercerita tentang masalah pribadi, merasa harus menjaga perasaan mereka, mengurus kebutuhan adik, atau merasa bersalah ketika tidak bisa membantu.

Karena itu, parentifikasi dalam keluarga tidak selalu terlihat seperti seorang anak yang melakukan pekerjaan orang dewasa setiap hari. Ada bentuk yang lebih halus, ketika anak merasa dirinya bertanggung jawab atas keadaan emosional orang-orang di rumah.

Kamu bisa tetap sekolah, bermain, bercanda, dan terlihat seperti anak biasa di depan orang lain. Namun di rumah, ada bagian dari dirimu yang selalu siaga melihat apa yang sedang terjadi dan memikirkan apa yang harus dilakukan.

Itulah sebabnya istilah “dewasa sebelum waktunya” kadang tidak sepenuhnya menggambarkan pengalamanmu. Kamu memang terlihat dewasa, tetapi kedewasaan itu bisa tumbuh dari kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, bukan karena kamu sudah siap menerima tanggung jawab sebesar itu.

Anak yang jadi orang tua untuk orang tuanya bahkan tidak selalu sadar bahwa batas tersebut sudah bergeser. Baginya, membantu ibu, menenangkan ayah, menjaga adik, atau menjadi orang yang paling mengerti keadaan rumah mungkin sudah terasa seperti bagian normal dari kehidupan sehari-hari.

Dan ketika sesuatu sudah terasa normal sejak kecil, kamu bisa membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa sebenarnya kamu sedang menjalani sesuatu yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawabmu seorang anak.

Definisi yang Baru Terasa Nyata Setelah Kamu Membacanya

Parentifikasi mungkin terdengar seperti istilah yang asing sampai kamu melihat kembali pengalaman masa kecilmu melalui kata itu. Bukan karena istilahnya tiba-tiba mengubah apa yang pernah terjadi, tetapi karena untuk pertama kalinya ada nama untuk sesuatu yang selama ini mungkin kamu anggap sebagai bagian biasa dari hidupmu.

Kamu mungkin baru menyadari bahwa menjadi pendengar bagi orang tua, menjaga adik ketika orang tua tidak mampu, menenangkan suasana rumah, atau merasa harus selalu memahami keadaan bukan sekadar tanda bahwa kamu anak yang pengertian. Ada tanggung jawab tertentu yang perlahan berpindah kepadamu ketika seharusnya kamu masih punya ruang untuk menjadi anak.

Itulah yang membuat parentifikasi tidak selalu mudah dikenali ketika kamu masih menjalaninya. Kalau sejak kecil kamu terbiasa menjadi orang yang paling bisa diandalkan, mengambil peran tersebut bisa terasa begitu normal sampai kamu tidak pernah mempertanyakan kenapa kamu harus melakukannya.

Kamu bahkan mungkin tidak merasa sedang kehilangan sesuatu pada saat itu. Kamu hanya melakukan apa yang menurutmu perlu dilakukan.

Ada perbedaan antara membantu keluarga dan merasa bahwa keluarga tidak akan baik-baik saja kalau kamu berhenti membantu. Ada pula perbedaan antara menjadi anak yang mandiri dan merasa bahwa kamu tidak boleh punya kebutuhan karena kebutuhan orang lain selalu terasa lebih penting.

Batasnya memang tidak selalu terlihat jelas dari satu kejadian. Karena itu, memahami parentifikasi bukan berarti mencari satu momen tertentu untuk membuktikan bahwa sesuatu pernah salah. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana posisi kamu di dalam keluarga terbentuk dari waktu ke waktu.

Mungkin kamu tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi anak yang baik berarti tidak menambah masalah. Kamu belajar menyimpan rasa lelah, menunda keinginan, membaca perasaan orang lain, dan tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sebenarnya kamu sendiri sedang membutuhkan seseorang untuk mengurusmu.

Ketika semua itu sudah menjadi kebiasaan, menyebutnya dengan istilah tertentu bisa terasa aneh. Ada bagian dari dirimu yang mungkin bahkan menolak menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan karena kamu merasa, “Toh, aku baik-baik saja.”

Tapi menyadari bahwa sesuatu punya nama tidak berarti kamu harus langsung menganggap masa kecilmu buruk. Parentifikasi juga tidak otomatis berarti orang tuamu tidak menyayangimu atau bahwa seluruh keluargamu adalah masalah. Yang sedang dilihat adalah pergeseran peran yang terjadi ketika seorang anak mulai memikul sesuatu yang terlalu berat untuk posisinya.

Kamu bisa memahami hal itu tanpa harus menghapus semua kenangan baik yang pernah kamu punya. Masa kecil bisa berisi kasih sayang sekaligus tanggung jawab yang terlalu besar. Dua hal tersebut bisa ada pada waktu yang sama.

Dan mungkin justru itu yang membuat pengenalannya terasa rumit. Kamu tidak sedang mengingat satu kejadian besar yang mudah diberi nama, tetapi serangkaian kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa saja.

Menyadari hal itu juga tidak otomatis membuat pengalaman tersebut terasa lebih ringan. Kadang sebuah nama baru justru membuatmu melihat kembali banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kamu pertanyakan.

Kalau setelah membaca ini kamu mulai melihat masa kecilmu dengan cara yang sedikit berbeda, mungkin yang muncul bukan jawaban yang langsung jelas, melainkan pertanyaan tentang hal-hal yang dulu kamu anggap normal. Dari sana, ciri-ciri kamu tumbuh sebagai anak yang parentifikasi menjadi bagian yang bisa dilihat lebih dekat.