Merasa Tidak Berkembang di Tempat Kerja: Kenapa Sibuk Tidak Selalu Berarti Maju

Kamu datang tepat waktu. Kamu buka laptop, cek pekerjaan yang belum selesai, balas pesan yang masuk, ikut meeting, lalu mulai mengerjakan satu per satu hal yang harus dibereskan hari itu.

Besoknya hampir sama. Minggu berikutnya juga begitu. Sampai suatu hari kamu berhenti sebentar dan sadar bahwa meskipun banyak hal sudah kamu kerjakan, rasanya kamu masih berada di tempat yang sama seperti setahun lalu.

Bukan karena kamu tidak melakukan apa-apa. Justru kamu terlalu sering melakukan sesuatu sampai sulit menemukan bagian mana dari semua kesibukan itu yang benar-benar membuatmu maju.

Rasanya Diam di Tempat, Padahal Kamu Terus Bergerak

Checklist pekerjaanmu mungkin terus terisi, tetapi rasa maju yang kamu tunggu tidak kunjung muncul. Tugas selesai, target harian tercapai, bahkan beberapa pekerjaan yang dulu terasa sulit sekarang sudah bisa kamu kerjakan hampir tanpa berpikir.

Merasa tidak berkembang di tempat kerja itu kondisi ketika aktivitasmu terus berjalan, tetapi kamu tidak lagi merasakan perubahan berarti dalam dirimu. Kamu tetap bekerja, tetap menyelesaikan tanggung jawab, tetapi ketika melihat ke belakang, sulit menunjuk apa yang sebenarnya bertambah dari dirimu selain jumlah pekerjaan yang sudah selesai.

Yang membuatnya aneh, dari luar kamu mungkin terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Kamu masih punya pekerjaan, masih menerima gaji, masih menyelesaikan tugas, dan mungkin bahkan masih dipercaya menangani pekerjaan tertentu.

Tapi ada bagian kecil dalam dirimu yang mulai bertanya, “Aku sebenarnya ke mana?”

Pertanyaan itu bisa muncul setelah kamu menyelesaikan pekerjaan yang sama untuk kesekian kalinya. Kamu tahu caranya, tahu urutannya, tahu apa yang harus dilakukan ketika masalah muncul. Tidak banyak lagi yang membuatmu penasaran karena sebagian besar hari kerjamu terasa seperti mengulang sesuatu yang sudah kamu kuasai.

Di titik itu, rasa lelah dan rasa tidak berkembang mulai terasa berbeda. Kamu bisa saja pulang dengan tubuh yang capek karena seharian bekerja, tetapi yang mengganggu pikiranmu justru bukan capeknya.

Yang mengganggu adalah perasaan bahwa hari ini berlalu tanpa membawa kamu ke mana-mana.

Kamu mungkin masih mendapatkan pengalaman, tetapi pengalaman itu terasa seperti pengulangan. Kamu mungkin masih mendapatkan tanggung jawab baru, tetapi tanggung jawab tersebut hanya membuat pekerjaanmu bertambah, bukan membuat kemampuan atau cara pandangmu terasa berubah.

Ada perbedaan antara bertambahnya pekerjaan dan bertambahnya sesuatu dalam dirimu.

Ketika yang pertama terus terjadi sementara yang kedua semakin jarang terasa, pekerjaan mulai memberikan sensasi yang aneh. Kamu sibuk hampir setiap hari, tetapi sulit mengatakan bahwa kamu sedang tumbuh.

Itulah kenapa rasa ini kadang lebih membingungkan daripada sekadar tidak suka pada pekerjaan. Kalau kamu benar-benar membenci pekerjaanmu, mungkin perasaannya terasa jelas. Tapi ketika kamu masih bisa menjalani semuanya dengan normal, masih bisa bekerja dengan baik, namun diam-diam merasa tidak bergerak, kamu bisa lebih lama mengabaikannya.

Sampai akhirnya kamu mulai menghitung waktu bukan dari berapa banyak pekerjaan yang sudah selesai, tetapi dari berapa lama kamu merasa tidak mengalami sesuatu yang baru dari pekerjaan itu.

Setahun berlalu. Dua tahun mungkin berlalu. Rutinitas berubah sedikit, jabatan mungkin berubah, tanggung jawab bisa bertambah, tetapi perasaan di dalamnya tetap mirip.

Kamu bergerak terus.

Hanya saja, kamu tidak yakin sedang menuju ke mana.

Kenapa “Sibuk” Tidak Sama dengan “Berkembang”

Sibuk itu satu hal. Berkembang itu hal lain. Kamu bisa menghabiskan hampir seluruh jam kerja untuk menyelesaikan sesuatu tanpa merasa bahwa pekerjaan itu membawa kamu lebih jauh dari posisi sebelumnya.

Kesibukan biasanya punya bukti yang mudah dilihat. Ada tugas yang selesai, pesan yang dibalas, laporan yang dikirim, meeting yang dihadiri, dan target yang harus dikejar lagi besok. Karena semuanya terlihat bergerak, mudah untuk menganggap bahwa dirimu juga sedang bergerak bersamanya.

Padahal pekerjaan yang terus bertambah tidak selalu membuat kemampuanmu ikut bertambah. Kamu bisa menjadi semakin cepat mengerjakan tugas yang sama, tetapi tetap tidak mendapatkan pengalaman yang membuat cara berpikirmu berubah atau memperluas sesuatu yang sebelumnya belum kamu kuasai.

Di sinilah rasa stagnan di pekerjaan bisa terasa begitu membingungkan. Kamu bukan tidak bekerja keras. Kamu justru punya banyak bukti bahwa kamu bekerja setiap hari, hanya saja bukti-bukti itu tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang apakah kamu sedang bertumbuh.

Ada hari ketika kamu pulang dalam keadaan sangat lelah, tetapi rasa lelah itu terasa masuk akal. Kamu tahu apa yang membuatmu capek karena ada sesuatu yang memang menguras perhatian, tenaga, atau pikiranmu.

Ada juga hari ketika kamu pulang dengan kepala yang tidak terlalu penuh, tetapi justru membawa perasaan yang lebih sulit dijelaskan. Tidak ada pekerjaan besar yang mengurasmu, tidak ada masalah berat yang harus diselesaikan, namun kamu merasa satu hari lagi sudah lewat tanpa sesuatu yang berarti berubah.

Perbedaannya bukan sekadar seberapa banyak energi yang kamu keluarkan.

Burnout lebih dekat dengan kelelahan yang menumpuk sampai pekerjaan terasa mengurasmu bahkan ketika kamu sudah tidak punya banyak tenaga untuk meresponsnya. Rasa tidak berkembang berada di tempat yang berbeda: kamu mungkin masih punya energi untuk bekerja, tetapi mulai kehilangan perasaan bahwa pekerjaan itu sedang membawamu ke suatu tempat.

Karena itu, kamu bisa saja tidak merasa burnout tetapi tetap merasa mentok. Kamu masih sanggup menyelesaikan pekerjaan, masih bisa bercanda dengan rekan kerja, dan masih bisa menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi ada bagian dari pekerjaan yang terasa semakin datar.

Datar bukan berarti selalu buruk. Pekerjaan memang tidak mungkin setiap hari memberikan pengalaman baru. Ada tugas yang berulang, ada pekerjaan administratif, ada rutinitas yang harus dilakukan meskipun tidak selalu terasa menarik.

Yang mulai terasa berbeda adalah ketika pengulangan itu menjadi hampir seluruh pengalamanmu.

Kamu mengerjakan hal yang sama bukan hanya karena pekerjaan memang membutuhkannya, tetapi karena tidak banyak hal lain yang datang setelah kamu menguasai bagian tersebut. Hari-hari kerja akhirnya dipenuhi aktivitas, tetapi semakin sedikit momen yang membuatmu merasa sedang menemukan sesuatu tentang kemampuanmu sendiri.

Kamu mungkin bahkan mulai terbiasa dengan perasaan itu.

Ketika seseorang bertanya bagaimana pekerjaanmu, jawabanmu mungkin tetap sederhana: baik-baik saja, sibuk, masih banyak kerjaan. Tidak ada satu kejadian besar yang cukup buruk untuk membuatmu mengatakan bahwa semuanya bermasalah.

Namun setelah percakapan itu selesai, pertanyaan yang sama bisa kembali muncul di kepala.

“Kalau aku terus seperti ini, sebenarnya aku sedang bertambah menjadi apa?”

Pertanyaan itu bukan selalu tentang jabatan yang lebih tinggi atau gaji yang lebih besar. Kadang yang kamu cari jauh lebih sederhana: perasaan bahwa waktu yang kamu habiskan di sana meninggalkan sesuatu di dalam dirimu.

Karena waktu kerja memang terus berjalan. Yang tidak selalu ikut berjalan adalah rasa bahwa kamu sedang berkembang bersamanya.

Dari Mana Rasa Mentok Ini Sebenarnya Muncul

Lingkungan kerja tidak selalu memberi ruang untuk berkembang, meskipun dari luar pekerjaanmu terlihat semakin penuh. Ada tempat di mana tanggung jawab terus bertambah, tetapi kesempatan untuk mencoba sesuatu yang berbeda justru semakin sedikit.

Kamu bisa saja sudah cukup lama berada di posisi yang sama sampai benar-benar memahami ritmenya. Kamu tahu apa yang diharapkan, tahu masalah yang biasanya muncul, dan tahu bagaimana menyelesaikannya tanpa terlalu banyak berpikir.

Kemampuan itu sebenarnya menunjukkan bahwa kamu sudah belajar banyak. Hanya saja, ketika sebagian besar pekerjaan akhirnya bisa dilakukan secara otomatis, tantangannya bukan lagi tentang apakah kamu mampu mengerjakannya, melainkan apakah masih ada sesuatu yang membuatmu berkembang setelah kamu mampu mengerjakannya.

Kadang lingkungan kerja memang dibentuk terutama untuk menjaga sesuatu tetap berjalan. Pekerjaan perlu selesai, target perlu tercapai, dan proses yang sudah terbukti bekerja cenderung dipertahankan. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan untuk membuat semuanya berjalan dengan baik bisa jauh lebih besar daripada kebutuhan untuk memberi ruang bagi setiap orang untuk terus bertumbuh.

Kamu pun bisa ikut terbiasa dengan pola tersebut.

Awalnya mungkin kamu masih merasa tertantang. Hal-hal yang baru membuatmu belajar, kesalahan membuatmu memahami sesuatu, dan pekerjaan yang lebih sulit memberi rasa bahwa kemampuanmu sedang bertambah.

Lalu perlahan kamu menjadi orang yang sudah tahu caranya.

Masalahnya bukan karena kamu sudah terlalu mampu. Justru karena kemampuanmu sudah cukup untuk membuat pekerjaan yang sama terasa semakin mudah, sementara lingkungan di sekitarmu tidak banyak berubah.

Di titik tertentu, pekerjaan bisa terasa seperti ruang yang semakin kamu kenal tetapi semakin sedikit yang bisa kamu temukan di dalamnya.

Perasaan tidak puas dengan pekerjaan kemudian tidak selalu muncul karena pekerjaan itu buruk. Kamu mungkin masih menyukai beberapa bagian dari pekerjaanmu, masih nyaman dengan orang-orang di sekitarmu, atau masih menghargai stabilitas yang kamu dapatkan.

Yang terasa mengganggu adalah jarak antara apa yang kamu lakukan setiap hari dan apa yang kamu rasakan sedang terjadi pada dirimu.

Kamu bekerja untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan, tetapi semakin jarang merasa pekerjaan itu memberi pengalaman yang berarti bagi perkembanganmu. Kamu mendapatkan rutinitas, tetapi tidak selalu mendapatkan rasa bertambah.

Karena itu, rasa mentok ini tidak selalu punya satu penyebab yang jelas. Bisa jadi bukan ada sesuatu yang salah dalam satu hari tertentu, melainkan ada pola yang terbentuk perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Kamu baru menyadarinya ketika rutinitas yang dulu terasa normal mulai terasa terlalu familiar.

Dan ketika rasa itu mulai muncul, pertanyaannya pun berubah. Bukan lagi sekadar apakah kamu masih mampu menjalani pekerjaan ini, tetapi apa sebenarnya yang membuat pekerjaan yang masih bisa kamu jalani terasa semakin jauh dari sesuatu yang ingin kamu rasakan.

Di situlah rasa tidak puas dengan pekerjaan mulai punya cerita yang lebih panjang daripada sekadar bosan atau ingin mencoba sesuatu yang baru.

Untuk melihat gambaran yang lebih utuh tentang rasa tidak puas itu, pembahasannya berlanjut dalam artikel “Kenapa Kamu Tidak Pernah Merasa Puas dengan Pekerjaanmu, Bahkan Saat Semuanya Terlihat Baik-Baik Saja”. Ini bukan tentang kamu salah pilih kerja, atau kurang berusaha. Rasa mentok ini punya pola sendiri, dan menyadarinya berbeda dari terus bertanya-tanya sendirian.