Kamu ingin dia di sini. Dan saat dia di sini, kamu ingin pergi.
Bukan karena kamu nggak tahu apa yang kamu mau. Tapi karena dua hal itu ada sekaligus, dan sama-sama nyata.
Ada bagian dalam dirimu yang ingin merasa dekat, dipahami, dan diyakinkan bahwa hubungan ini aman. Tapi di saat yang sama, ada bagian lain yang justru merasa waspada ketika kedekatan itu benar-benar terjadi. Semakin dekat, semakin muncul keinginan untuk mengambil jarak.
Yang bikin bingung, kamu bisa merasakan keduanya dalam waktu yang hampir bersamaan. Kamu bisa menunggu pesan seseorang dengan gelisah, lalu ketika pesannya datang dan percakapan mulai terasa intens, kamu malah ingin menghilang sebentar.
Dua Keinginan yang Berlawanan, Sama-Sama Nyata di Waktu yang Sama
Kamu ingin dihubungi terus, lalu begitu benar-benar dihubungi terus, kamu merasa terjebak. Kamu ingin tahu bahwa seseorang masih peduli, tetapi ketika perhatian itu datang terlalu dekat, kamu justru merasa seperti kehilangan ruang untuk bernapas.
Fearful avoidant adalah ketika kebutuhan untuk dekat dan dorongan untuk menjauh bisa muncul bersamaan dalam dirimu. Fearful avoidant attachment bukan sekadar keadaan ketika kamu kadang ingin dekat lalu di lain waktu ingin sendiri, tetapi ketika kedua dorongan itu sama-sama aktif dan bisa saling tarik-menarik bahkan dalam satu momen.
Misalnya, kamu melihat pesan dari seseorang yang kamu sukai. Sebelum pesan itu datang, kamu mungkin sudah bertanya-tanya kenapa dia belum menghubungimu, apakah dia mulai berubah, atau apakah dia sebenarnya nggak lagi tertarik. Begitu akhirnya pesan itu masuk, rasa lega bisa muncul sebentar, tetapi kemudian muncul perasaan lain: terlalu dekat, terlalu banyak, atau terlalu menuntut.
Kamu akhirnya berada dalam situasi yang dari luar terlihat membingungkan. Kamu menunggu kedekatan, tetapi ketika kedekatan itu datang, kamu juga ingin mundur.
Dorongan untuk memastikan seseorang tetap ada di dekatmu punya kemiripan dengan sisi anxious dalam attachment, terutama ketika kamu merasa perlu terus mendapatkan kepastian dari hubungan. Di titik ini, kamu bisa melihat kenapa pengalaman tentang dorongan untuk terus merasa dekat terasa begitu familiar.
Tapi kebutuhan untuk dekat itu bisa bertabrakan dengan rasa nggak nyaman ketika hubungan mulai terasa terlalu intens. Kamu bisa merasa ingin dicintai, tetapi sekaligus takut kehilangan kebebasan, takut terlalu bergantung, atau takut kalau kedekatan itu nantinya justru menyakitimu. Perasaan seperti inilah yang membuat dorongan untuk mengambil jarak juga terasa sangat dekat dengan pengalamanmu.
Yang terjadi bukan seperti sakelar yang berpindah dari anxious ke avoidant. Kamu nggak selalu menjalani fase ingin dekat terlebih dahulu, kemudian beberapa waktu setelahnya baru ingin menjauh.
Kadang keduanya muncul dalam satu percakapan. Kamu ingin dia menjawab pesanmu karena kamu butuh kepastian, tetapi saat dia mulai bertanya terlalu banyak tentang perasaanmu, kamu merasa ingin menutup diri. Kamu ingin hubungan itu berjalan, tetapi sekaligus ingin memastikan bahwa kamu masih punya jalan keluar kalau semuanya terasa terlalu dekat.
Kontradiksi ini juga bisa muncul tanpa ada kejadian besar yang sebenarnya terjadi. Seseorang bisa saja memperlakukanmu dengan baik, hadir secara konsisten, dan nggak melakukan sesuatu yang jelas-jelas mengancam hubungan, tetapi rasa aman tetap sulit terasa sepenuhnya.
Karena itu, kamu mungkin sering bingung dengan reaksimu sendiri. Saat jauh, kamu merindukan kedekatan; saat dekat, kamu merindukan jarak. Bukan berarti salah satu perasaan itu palsu dan yang lainnya baru benar-benar kamu rasakan.
Keduanya bisa sama-sama nyata.
Dan ketika dua dorongan itu terus bertemu, hubungan yang seharusnya terasa sederhana bisa mulai terasa sangat intens. Ada rasa ingin memiliki kedekatan yang kuat, tetapi bersamaan dengan itu ada kewaspadaan yang membuat kedekatan tersebut sulit dipertahankan dengan tenang.
Kenapa Hubunganmu Sering Terasa Intens dan Nggak Stabil
Kamu bisa merasa sangat yakin pada seseorang ketika hubungan terasa dekat, lalu tiba-tiba mulai mempertanyakan semuanya ketika muncul sedikit saja ketidakpastian. Perubahan kecil dalam cara seseorang membalas pesan, nada bicara yang berbeda, atau jeda yang lebih panjang bisa terasa jauh lebih besar di kepalamu daripada yang sebenarnya terjadi.
Ketika kedekatan datang dengan cepat dan intens, kamu bisa merasa seperti akhirnya menemukan tempat yang selama ini kamu cari. Perhatian yang konsisten membuatmu tenang, percakapan yang semakin dalam membuatmu merasa dipahami, dan kehadiran orang itu memberi rasa bahwa hubungan ini benar-benar berarti.
Tapi rasa aman itu bisa berubah ketika ada sesuatu yang membuatmu nggak yakin. Pesan yang biasanya cepat tiba-tiba terlambat, seseorang terlihat sedikit lebih sibuk, atau responsnya terasa berbeda dari biasanya bisa membuat bagian anxious dalam dirimu kembali mencari kepastian. Kamu ingin mendekat untuk memastikan hubungan itu masih aman, tetapi pencarian kepastian itu sendiri bisa membuatmu semakin tegang.
Di saat yang sama, kedekatan yang terlalu intens bisa membuat bagian lain dalam dirimu merasa terancam. Kamu mungkin mulai merasa terlalu diperhatikan, terlalu banyak ditanya, atau terlalu bergantung pada seseorang yang sebenarnya juga kamu takut kehilangan.
Itulah kenapa kamu bisa mengalami pola yang terasa seperti tarik-ulur. Saat hubungan mulai menjauh, kamu ingin mengejarnya karena takut kehilangan; saat hubungan kembali mendekat, kamu justru ingin menciptakan jarak karena takut kehilangan dirimu sendiri.
Kamu mungkin akhirnya melakukan sesuatu yang bahkan sulit kamu jelaskan setelahnya. Kamu mencari kepastian, mendapatkan respons yang kamu inginkan, lalu merasa nggak nyaman karena hubungan terasa terlalu dekat. Kamu mengambil jarak, merasa lega untuk sementara, lalu ketika orang itu benar-benar menjauh, rasa takut kehilangan kembali muncul.
Pola seperti ini bisa membuat hubunganmu terasa sangat intens meskipun nggak selalu ada masalah besar di antara kamu dan pasangan. Yang berubah bukan cuma situasi di luar dirimu, tetapi juga cara kedekatan dan jarak terasa di dalam dirimu.
Kamu bisa membaca kedekatan sebagai sesuatu yang sangat kamu butuhkan sekaligus sesuatu yang harus kamu waspadai. Akibatnya, hubungan yang sebenarnya sedang baik-baik saja pun kadang terasa sulit untuk benar-benar dinikmati karena sebagian dirimu tetap mencari tanda bahwa sesuatu mungkin akan berubah.
Istilah disorganized attachment juga mungkin pernah kamu dengar ketika mencoba memahami pengalaman seperti ini. Istilah tersebut sering digunakan dalam pembahasan attachment untuk menggambarkan pola yang memperlihatkan konflik antara kebutuhan untuk mencari kedekatan dan kecenderungan untuk menjauh ketika kedekatan itu terasa mengancam.
Konflik itu bisa membuatmu sulit menemukan posisi yang terasa benar-benar aman. Terlalu jauh membuatmu gelisah, tetapi terlalu dekat juga bisa membuatmu ingin menarik diri.
Dalam hubungan yang terus mengalami tarik-ulur seperti ini, kamu juga bisa semakin mudah mempertanyakan apakah hubungan tersebut memang sehat atau justru sudah masuk ke pola yang membuatmu terus merasa nggak aman. Karena itulah pembahasan tentang toxic relationship bisa menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas ketika kamu mencoba memahami kenapa sebuah hubungan terasa begitu menguras secara emosional.
Yang melelahkan bukan hanya pertengkarannya, kalau memang ada. Ketidakstabilan itu sendiri bisa muncul dari perasaan bahwa kamu terus bergerak antara ingin dipeluk lebih dekat dan ingin punya jarak yang cukup untuk merasa aman.
Semakin kuat salah satu sisi muncul, semakin kuat sisi lainnya bisa ikut bereaksi. Kamu ingin hubungan yang dekat, tetapi ketika kedekatan itu mulai terasa nyata, kamu juga ingin memastikan bahwa kamu nggak kehilangan kendali atas dirimu sendiri.
Karena itu, dari luar kamu mungkin terlihat berubah-ubah. Dari dalam, pengalamanmu sebenarnya punya logika sendiri: kamu sedang berusaha memenuhi kebutuhan untuk dekat tanpa sepenuhnya merasa aman dengan apa yang mungkin terjadi ketika kamu benar-benar dekat.
Dari Mana Kontradiksi Ini Sebenarnya Bermula
Kamu bisa belajar bahwa orang yang paling kamu butuhkan untuk merasa aman juga kadang menjadi sumber rasa nggak aman. Ketika pengalaman seperti itu terjadi berulang, kedekatan nggak lagi punya satu arti yang sederhana di dalam dirimu.
Di satu sisi, kedekatan berarti kamu mendapatkan perhatian, perlindungan, dan rasa bahwa ada seseorang yang akan tetap berada di sana. Tapi di sisi lain, kedekatan juga bisa terasa seperti sesuatu yang sewaktu-waktu membawa penolakan, perubahan, atau kehilangan.
Dari sinilah kontradiksi itu bisa terbentuk. Kamu belajar bahwa mendekat adalah sesuatu yang kamu inginkan, tetapi pada saat yang sama kamu juga perlu berhati-hati karena mendekat belum tentu selalu berakhir dengan rasa aman.
Kamu nggak harus mengingat satu kejadian tertentu untuk merasakan pengaruhnya sekarang. Pola hubungan yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman sebelumnya bisa tetap terbawa ketika kamu sudah berada dalam hubungan yang berbeda dan berhadapan dengan orang yang sebenarnya bukan bagian dari pengalaman tersebut.
Itulah kenapa responsmu terhadap kedekatan kadang terasa lebih kuat daripada situasi yang sedang terjadi. Ketika seseorang terlambat membalas pesan, misalnya, yang terasa bukan cuma keterlambatan itu sendiri. Ada kemungkinan bagian dalam dirimu langsung menghubungkannya dengan kemungkinan ditinggalkan, sementara bagian lain justru mulai ingin menjaga jarak sebelum kamu merasa terlalu bergantung.
Kamu bisa takut ditinggalkan tapi juga takut dekat pada waktu yang sama. Dua ketakutan itu nggak harus saling menunggu; keduanya bisa hidup berdampingan dan membuat keputusan sederhana dalam hubungan terasa jauh lebih rumit.
Karena itu, kamu mungkin sulit mempercayai rasa aman bahkan ketika seseorang sedang berusaha memberikannya. Bukan karena kamu sengaja menolak kedekatan, melainkan karena kedekatan itu sendiri sudah membawa dua pesan yang bertentangan: kamu membutuhkannya, tetapi kamu juga perlu waspada terhadapnya.
Semakin kamu memahami hubungan antara dua dorongan ini, semakin jelas kenapa pengalamanmu nggak selalu bisa dijelaskan hanya sebagai ingin dekat atau ingin menjauh. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar berubah pikiran tentang seseorang.
Kamu sedang membawa dua kebutuhan yang sama-sama masuk akal dari pengalamanmu sendiri. Kamu ingin merasa terhubung tanpa harus merasa kehilangan kendali, ingin dicintai tanpa harus terus takut akan kehilangan, dan ingin dekat tanpa harus merasa bahwa kedekatan itu membuatmu berada dalam posisi yang rentan.
Itulah yang membuat fearful avoidant attachment terasa begitu kontradiktif dari dalam. Kamu bukan sedang memainkan permainan tarik-ulur dengan perasaanmu sendiri; kamu bisa benar-benar menginginkan dua hal yang tampaknya bertentangan pada saat yang sama.
Kalau sebelumnya kamu melihat attachment hanya sebagai soal apakah kamu cenderung mendekat atau menjauh, pengalaman ini menunjukkan bahwa hubungan dengan orang lain bisa jauh lebih rumit dari dua arah tersebut. Gambaran yang lebih lengkap tentang pola-pola attachment akan dibahas dalam Attachment Style
Kontradiksi ini bukan tanda bahwa kamu “gila”. Ada alasan kenapa kedekatan bisa terasa begitu kamu butuhkan sekaligus begitu menakutkan.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, dua hal yang selama ini terlihat bertolak belakang itu nggak harus berarti salah satunya palsu. Keduanya bisa memang menjadi bagian nyata dari pengalamanmu.